Halaman

Tampilkan postingan dengan label C. Sejarah Fingerprint Test. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label C. Sejarah Fingerprint Test. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2009

Multiple Intelligence dan Sidik Jari


Multiple Intelligence dan Sidik Jari

Pada awal tahun 1980-an, Profesor bidang Pendidikan, Howard Gardner dari Harvard University mengemukakan teori kecerdasan majemuk. Ia menyatakan bahwa cara tradisional memandang kecerdasan berdasarkan tes IQ, sangatlah terbatas. Sebaliknya ia memberikan pandangan tentang delapan kecerdasan dimana setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda. Teori ini membuktikan bahwa tak ada anak yang tak cerdas. Setiap anak memiliki kecerdasan, tetapi dominasi kecerdasannya berbeda.

Kecerdasan tersebut adalah : kecerdasan bahasa, kecerdasan logika matematika, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan musikal, kecerdasan visual ruang, kecerdasan kinestetis, kecerdasan naturalis. Ke delapan kecerdasan ini tak berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Variasi ranking kecerdasan dan interaksinya menggambarkan tentang diri individu, sehingga setiap individu menjadi berbeda. Implikasi bagi metode belajar mengajar seharusnya difokuskan pada kecerdasan tertentu dengan menggunakan gaya pengajaran yang tepat sesuai potensi kecerdasan anak didik. Oleh karena itu penaksiran kemampuan seharusnya mengukur semua bentuk kecerdasan, bukan hanya terfokus pada bahasa dan logika.

Pada abad ke 19,Paul Brocca menemukan area pusat produksi kemampuan bicara berada pada area frontal lobes yang dikenal sebagai area brocca di otak bagian kiri. Individu yang mengalami Brocca’s aphasia dan Wernicke’s aphasia akan menga;ami gangguan pada kemampuan bicaranya. Hal ini membuktikan bahwa pusat kemampuan bahasa berada pada otak sebelah kiri.

Pembuktian berikutnya dilakukan oleh Roger Sperry dan Koleganya pada tahun 1960. Penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan fungsi dan tugas antara otak kanan dan kiri. Otak kiri memiliki fungsi untuk verbal, pemahaman logis, faktual dan analisis. Sementara itu otak kanan memiliki fungsi yang berkaitan dengan persepsi ruang, musik, kreatifitas dan emosi. Otak kanan berhubungan dengan tangan kiri dan otak kiri berkaitan dengan tangan kanan.Hasil penemuan inilah yang mengantarkan Roger W.Sperry mendapat hadiah nobel pada tahun 1981.
Penemuan berikutnya dilakukan Dr Rita Levi Montalcini (peraih Nobel Prize, bidang neurologi, 2003) dan Dr Stanley Cohen dimana mereka menemukan adanya korelasi antara NGF ( Nerve Growth Factor ) dan EGF ( Epidermal Growth Factor ). Korelasi antara NGF dan EGF adalah :
• Fingerprint pada ibu jari berkorelasi dengan bagian otak Prefrontal.
• Fingerprint pada Telunjuk berkorelasi dengan bagian otak Frontal.
• Fingerprint pada Jari Tengah berkorelasi dengan bagian otak Parietal.
• Fingerprint pada Jari Manis berhubungan dengan bagian otak Temporal.
• Fingeprint pada Jari Kelingking berhubungan dengan bagian otak Occipital.

Karena identifikasi multiple intelligence dilakukan melalui sidik jari maka berarti ada 10 kecerdasan bukan hanya 8 kecerdasan. Hal ini dapat dipahami karena kecerdasan visual diukur berdasar pengamatan perilaku sehingga dinyatakan sebagai visual spatial. Dalam sidik jari maka kecerdasan ini merupakan interaksi kecerdasan visual 2 dimensi dan kecerdasan imajinasi atau kemampuan melihat ruang. Oleh karena itu,tidak semua anak yang bisa menggambar sesuai untuk pemilihan jurusan studi sebagai arsitek. Kita juga dapat melihat bahwa ada anak yang bisa menggambar dengan melihat alam, ada yang menggambar alam berdasarkan foto, ada lainnya yang suka menggambar abstrak, ada yang mampu menggambar 3 dimensi. Tentunya melalui analisa sidik jari hal ini dapat diidentifikasi dengan tepat.

Kecerdasan kinestetik dapat diidentifikasi melalui 2 kecerdasan yaitu kecerdasan gerak tubuh dan kecerdasan gerak jari jemari. Memang pada anak usia dini perbedaan perilaku antara anak yang dominan kecerdasan tubuhnya dan jemarinya tidak terlalu nampak sehingga diidentifikasi sebagai kecerdasan kinestetik atau sensory. Pada usia 10 tahun keatas ( atau sebagian ada yang menunjukkan perbedaan diatas 12 tahun), maka ada sebagian anak yang dikenal tak bisa diam atau banyak bergerak mulai menunjukkan penurunan gerakkan tubuhnya tetapi lebih banyak di dominasi oleh gerakkan jemarinya. Anak yang cerdas atau trampil menggunakan jemarinya adalah anak yang pandai membuat barang kerajinan tangan. Oleh karena itu menurut gejala perilakunya maka ada 8 kecerdasan majemuk pada diri individu.

Kadang dalam melihat gejala perilaku kita juga bisa mengidentifikasi kecerdasan anak yang menonjol. Manakala ada seoarang anak yang mendengar musik langsung menggerak-gerakkan kaki atau tangannya mengikuti irama musik. Tanda atau gejala ini menandakan anak memiliki kecerdasan musik yang cukup tinggi. Oleh orang tuanya, anak tersebut di kursuskan piano dengan alasan agar otak kanan dan kirinya seimbang. Namun setelah 4 tahun mengikuti kursus tersebut, sang anak tidak menunjukkan kemajuan yang berarti dibandingkan rekan di kelasnya. Memang biaya kursusnya terbilang tidak terlalu tinggi menurut ukuran orang tuanya yaitu Rp 350.000,-. Tetapi bila dihitung waktu dan biaya selama periode 4 tahun, maka biaya tersebut terbilang besar yaitu 4 x 12 x 350.000 = Rp. 16.800.000,-.

Akhirnya sang mama mengikut sertakan anaknya untuk mengikuti tes sidik jari. Berdasar atas hasil analisa, diidentifikasi anak tersebut memang memiliki kecerdasan musik yang tinggi. Namun karena kecerdasan dexteritynya lemah maka anak cenderung kurang trampil dalam menggunakan jemarinya. Dibutuhkan waktu yang lebih banyak dan belajar secara konsisten untuk bisa menguasai ketrampilan memainkan tuts piano. Sang anak bisa menjadi stress karena tak cepat menguasai ketrampilan tersebut. Gejala nampak ketika disampaikan informasi ini, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidak setujuan atas desakan orang tuanya bermain piano.

Hal ini tentu dapat dipahami dengan gejala perilaku yang nampak yaitu ada orang yang senang menikmati musik, tetapi tidak semua yang cerdas musik bisa menyanyi dengan baik. Adapula orang yang pandai bermain musik tetapi tak bisa mengarang lagu. Ada pengarang lagu tetapi tak pandai menyanyi. Hal ini juga ditentukan oleh interaksi antar kecerdasannya. Dalam sessi konsultasi seringkali interaksi ini disampaikan dan berikut gejala perilaku yang nampak pada saat ini.

Demikian yang bisa kami sharingkan tentang multiple intelligence dan tes sidik jari, mudah2an dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Salam sukses selalu
Drs.Psi.Reksa Boeana
Executive Partner Smart Business Solution.

Rabu, 23 Desember 2009

Tes Sidik Jari


Sidik Jari
dan Kecerdasan.

Banyak jasa yang menawarkan Tes Sidik Jari. Memang Penelitian mengenai Sidik Jari sudah cukup lama dilakukan yaitu seratus tahun yang lalu. Francis Galton pada tahun 1892 melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa sidik jari unik dimana setiap orang memiliki sidik jari yang berbeda. Sedangkan Sidik Jari bersifat tetap dan tak pernah mengalami perubahan. Manakala terluka maka ia akan tumbuh kembali. Oleh karena itu Sidik Jari di gunakan sebagai identitas diri.

Penelitian Sidik Jari menjadi terbuka ketika melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh Roger W.Sperry, pemenang Nobel tahun 1981, menemukan tentang “ functional specialization of the cerebral hemisphere”. Otak kanan berhubungan dengan tangan kiri dan Otak kiri berhubungan dengan tangan kanan. Otak kanan dan kiri juga memiliki fungsi berbeda. Otak kiri memiliki kecenderungan yang mengarah pada keteraturan, menyukai hal –hal yang realistis, logika dan berkaitan dengan kemampuan pemahaman dalam membaca data statistik. Sedangkan Otak kanan lebih berkaitan dengan Abstraksi dan Emosi.

Penemuan berikutnya dilakukan Dr Rita Levi Montalcini (peraih Nobel Prize, bidang neurologi, 2003) dan Dr Stanley Cohen dimana mereka menemukan adanya korelasi antara NGF ( Nerve Growth Factor ) dan EGF ( Epidermal Growth Factor ). Korelasi antara NGF dan EGF adalah :

• Fingerprint pada ibu jari berkorelasi dengan bagian otak Prefrontal.
• Fingerprint pada Telunjuk berkorelasi dengan bagian otak Frontal.
• Fingerprint pada Jari Tengah berkorelasi dengan bagian otak Parietal.
• Fingerprint pada Jari Manis berhubungan dengan bagian otak Temporal.
• Fingeprint pada Jari Kelingking berhubungan dengan bagian otak Occipital.

Penelitian mengenai sidik jari dilanjutkan dengan melibatkan psikolog dan peneliti bidang ilmu sosial. Pengumpulan guratan sidik jari yang sama dan hasil tes yang memiliki korelasi kuat di jadikan dasar untuk menilai karakter bawaan individu. Sedangkan hasil yang berbeda dan lemah korelasinya di pilahkan dan diidentifikasi sebagai faktor pengaruh lingkungan. Oleh karena itu bila sidik jari anda Ulnar loop ( lihat gambar, pada artikel lainnya pada www.reksaboeana.blogspot.com ) di kiri dan kanan kelingking anda maka anda cenderung memiliki tipe karakter yang tak mengetahui arah. Anda lebih banyak mengingat tanda-tanda yang ada di lingkungan manakala anda bepergian. Individu ini seringkali mengalami kebingungan manakala tanda-tanda di lingkungan tersebut telah berubah. Karakter bawaan ini cenderung tetap sampai individu dewasa.

Tes Sidik Jari dan kecerdasan yang diukur memiliki akurasi yang tinggi. Namun anda perlu berhati-hati dalam memilih tes sidik jari. Ada beberapa tes sidik jari yang mengukur guratan Tented Arch ( TA dalam bahasa analyst fingerprint) dan Simple Arch ( SA ) dengan pengukuran yang berbeda. Sehingga manakala disimpulkan individunya sebagai orang yang mudah bergaul ternyata individu tersebut kurang pandai bergaul. Seorang ibu mengikuti tes sidik jari di bandung kemudian mengikuti tes ulang ditempat kami. Ia tak memiliki banyak teman, cenderung lambat dalam memulai interaksi, namun ia memiliki tingkat kedalaman dan perhatian terhadap orang yang dikenalnya. Sesungguhnya model Tented Arch tidak dapat diukur dan tingkat kecerdasannya ditentukan murni oleh faktor lingkungan. Individunya tergolong orang yang sangat dipengaruhi oleh apa yang dipelajarinya.

Suatu kasus menarik, kami temukan di Tabalong Kalimantan Selatan dimana ke 4 sidik jari anak tersebut adalah Tented Arch. Anak pertamanya ini kurang memiliki inisiatif. Manakala ia bermain ia justru mengikuti permainan yang dilakukan adiknya yang 3 tahun lebih muda. Ia tergolong sabar dan ketika mendapatkan nilai ulangannya cenderung menyembunyikan dari orang tuanya. Ia juga suka melihat hasil ulangan adiknya dan mempelajari materi soal adiknya dan bukan pelajaran dia sendiri. Memang individu yang demikian selalu berorientasi tentang masa lalu. Kata yang sering diucapkan adalah dulu. Prestasi yang selalu dijadikan dasar bertindak saat ini adalah menyamakan dengan apa yang telah dicapainya di masa lalu. Ia cenderung orang yang prosedural. Tipe ini tak banyak memiliki teman tetapi ia dekat sekali dengan teman yang dikenalnya.

Langkah perbaikan diberikan pada saat konsultasi, dimana individu dengan tipe karakter ini memiliki karakter kecerdasan seperti spon. Menyerap apa saja yang diterimanya. Ia kurang memiliki alternatif manakala melakukan tindakan karena apa yang diperoleh adalah apa yang dipantulkannya dalam perilakunya. Oleh karena itu disarankan tipe ini diberikan saran belajar multiple learning. Hal terpenting adalah memahami potensi diri lebih dulu sehingga kita bisa mengoptimalkan potensi kita jauh lebih baik.

Akurasi tes dapat diukur dengan karakter yang disampaikan melalui hasil tes sidik jari. orang tua dapat pula mengukur akurasinya dengan menanyakan pada analyst fingerprint. Setelah tes melakukan tes sidik jari, anda juga dapat mengukur gejala kecerdasan anak tersebut sesuai dengan tingkat kecerdasan berdasar hasil tes sidik jari.
Demikian yang dapat kami sharingkan tentang sidik jari dan kecerdasan, moga bisa banyak membantu para pembaca.

Salam sukses selalu
Drs.Psi. Reksa Boeana.
Executive Partner Smart Business Solution.